<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?> 
  <rss version="2.0"><channel> 
				<title>RSS Husnumufid my id</title> 
				<description>Berita Indonesia terkini terpercaya, dan terpopuler, politik, ekonomi, tekno, otomotif, dan olahraga ditulis lengkap dan akurat.</description>
				<link>http://husnumufid.stoedioportal.com/</link> 
				<language>id-id</language><item>
						                <title>Madas Sedarah Menolong Warga Sampang dari Pemerasa Saat Jemput Jenazah</title>
						                <link>https://husnumufid.my.id/berita/detail/madas-sedarah-menolong-warga-sampang-dari-pemerasa-saat-jemput-jenazah</link>
						                <description>Sidoarjo-Memang keterlaluan dan   memilukan terjadi di ruas jalan Sedati, Sidoarjo. Seorang warga Kabupaten Sampang bernama Naiman menjadi korban tindakan brutal berupa pengeroyokan dan pemerasan oleh sekelompok orang tak dikenal.

 Saat itu ia tengah bertugas mengawal ambulans yang akan menjemput jenazah di Bandara Juanda.

Peristiwa yang sarat pelanggaran hukum dan kemanusiaan ini terjadi ketika rombongan dalam perjalanan dari Sampang menuju Surabaya. Di tengah perjalanan, kendaraan yang membawa misi duka tersebut tiba-tiba dicegat secara paksa dan ilegal oleh sekelompok orang tak dikenal.

Tanpa memiliki kewenangan hukum yang sah, kelompok pelaku tidak hanya melakukan penghentian kendaraan, tetapi juga melakukan tindakan anarkis. Korban menjadi sasaran kemarahan yang tidak berdasar, menerima perlakuan berupa kekerasan fisik (pengeroyokan) serta cacian dan makian yang sangat tidak senonoh.

Dalam kondisi tertekan dan ketakutan, korban dipaksa menyerahkan sejumlah uang. Para pelaku mengancam akan melakukan kekerasan lebih lanjut jika permintaan uang sebesar tiga juta rupiah tidak dipenuhi.

Ironisnya, tindakan sadis ini menimpa seseorang yang sedang menjalankan amanat kemanusiaan dan adat istiadat, yakni memulangkan jenazah ke kampung halaman.

Menanggung rasa sakit fisik dan mental, Naiman akhirnya mengambil langkah hukum. Ia melaporkan kasus ini secara resmi ke Polda Jawa Timur, guna menuntut pertanggungjawaban pidana atas peristiwa tersebut.

Merespons kejadian meresahkan ini, tim dari MADAS Sedarah langsung turun tangan memberikan pendampingan hukum dan perlindungan kepada korban.

“Kami mengecam keras segala bentuk tindakan premanisme yang meresahkan masyarakat, terlebih dalam situasi duka seperti ini. Ini bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi juga melukai nilai kemanusiaan,” tegas Aziz dari MADAS Sedarah, Jum'at, (17/4/2026).kemarin

Sementara warga Sidoarjo menyatakan, Bukannya ambula ketidak perlu dikawal?

Mobil ambulans yang membawa pasien darurat secara hukum wajib diprioritaskan dan tidak memerlukan pengawalan warga sipil/relawan karena dilindungi undang-undang. Pengawalan oleh warga sipil justru dapat dikenakan tilang berdasarkan Pasal 287 ayat 4 UU LLAJ
</description>
					                </item><item>
						                <title>TEMU KANGEN & HALAL BIHALAL SEMPAT 90 JOS JIS, MEMBAWA KENANGAN INDAH</title>
						                <link>https://husnumufid.my.id/berita/detail/temu-kangen--halal-bihalal-sempat-90-jos-jis-membawa-kenangan-indah</link>
						                <description>PONOROGO, Minggu 19 April 2026 #Menaramadinah.com - Kota Reog Ponorogo yang biasanya Panas, Saat ini nampak Cerah. udara segar & Sejuk Terasa Membuat Semangat Buat Para Alumni SMPN 4 Ponorogo tahun 1990 . Para alumni yang berasal dari berbagai kota, Semangat ingin berjumpa, Temu kangen Sesama Alumni  yang sebelumnya terpisah tempat & Waktu. 

Ada yang dari kota ponorogo, Madiun, Magetan, Kalimantan dll. Semua senang, Semua gembira, nampak Terpancar dari wajah - Wajah mereka. Bertempat di Rumah Pak Bukhori, salah satu Alumni, Tepatnya di Purbosuman - Ponorogo, Satu demi satu  para Peserta sudah mulai berdatangan. Acara Di mulai pukul 09.00  Sebagai tanda kebersamaan, Namun ada juga yang datang jam 08 00 & lebih pagi lagi, karena ada yang ingin bantu menyiapkan acara. Malam sebelumnya ada juga yang Melekan & Persiapan di tempat acara, karena sangat semangat nya mau mengadakan acara. 

Jam 09.00 Lebih sedikit,  di mulailah acara Temu kangen & Halalbihalal Sempat 90 tahun 2026 Pembawa acara Pak didik brotonegaran, mulai membawakan acara . Di awali dengan Pembukaan, di lanjut Dzikir & Baca Tahlil Oleh Pak suratno. usai sudah Dzikir Tahlil Lalu Sambutan Tuan Rumah Pak Bukhori, Dengan senang hati Pak Bukhori menyampaikan ucapan banyak - Banyak Terimakasih atas kedatangan teman2. lalu di tutup Do'a yang di sampaikan oleh Pak Edi yang juga seorang pengusaha Transportasi. 

Menginjak acara selanjutnya Foto bersama, Sebagai kenang - Kenangan, Lalu ramah tamah - Makan makan. Salah Satu Peserta Pak didik menyampaikan : Alhamdulillah Teman2 semua bisa kumpul, bisa  Mempererat Persaudaraan & menambah Akrab antar sesama, Katanya " saat kami wawancarai. 

Setelah di tutup acaranya, Para peserta HBH Membuat keputusan & Kesepakatan untuk tahun depan, rencana teman2 akan mengadakan acara di Telaga sarangan magetan, dinTrenggalek atau di pacitan. Alhamdulilah, selamat buat Kalian, Semua bisa kembali ke tempat masing2, Dengan semangat, saling menguatkan & saling suport untuk menghadapi kehidupan kedepan. 

#Riosanjaya #Kabiromataraman #Menaramadinah.com #PenajiwaTV #Halalbihalal #Sempat90 #ponorogo
</description>
					                </item><item>
						                <title>TM 2 Piala Walikota Drum Band Surabaya 2026 Bahas Teknis dan Pakta Integritas</title>
						                <link>https://husnumufid.my.id/berita/detail/tm-2-piala-walikota-drum-band-surabaya-2026-bahas-teknis-dan-pakta-integritas</link>
						                <description>Surabaya – Menjelang pelaksanaan Kejuaraan Lomba Piala Walikota Drum Band Kota Surabaya 2026 yang akan digelar pada 16–17 Mei 2026 di Sport Center UINSA Surabaya, panitia menyelenggarakan Technical Meeting (TM) 2 pada 19 April 2026 di Kampus C UNUSA Surabaya. Kegiatan ini menjadi langkah penting untuk memastikan seluruh rangkaian lomba berjalan lancar, tertib, dan profesional.
Acara diawali dengan registrasi peserta, pemutaran profil UNUSA, serta menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan Mars Patriot Olahraga dan Mars PDBI yang menambah semangat seluruh peserta dan panitia yang hadir.
Ketua Pelaksana, Romli, dalam sambutannya menyampaikan bahwa TM 2 merupakan momentum penting untuk menyamakan persepsi antara panitia dan seluruh peserta lomba. Menurutnya, koordinasi yang matang akan menjadi kunci sukses terselenggaranya kejuaraan tingkat Kota Surabaya tersebut.
Sesi inti Technical Meeting membahas berbagai hal strategis, di antaranya teknis pengundian nomor urut peserta, jadwal uji coba lapangan, syarat-syarat hadiah, pengumuman penutupan pendaftaran pada masing-masing mata lomba, hingga penandatanganan pakta integritas oleh seluruh peserta. Langkah ini dilakukan agar kompetisi berjalan adil, transparan, dan menjunjung tinggi sportivitas.
Ketua Pelaksana Romli berharap, melalui TM 2 ini seluruh peserta dapat memahami aturan dan teknis perlombaan secara menyeluruh, sehingga saat pelaksanaan nanti setiap kontingen dapat tampil maksimal dengan semangat kompetisi yang sehat.
“Harapan kami, kejuaraan ini bukan hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga wadah silaturahmi, pembinaan prestasi, dan pengembangan bakat generasi muda di bidang drum band,” ujarnya.
Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin Gus Ali, kemudian dilanjutkan sesi foto bersama seluruh peserta dan panitia sebagai simbol kebersamaan menjelang suksesnya Kejuaraan Lomba Walikota Drum Band Kota Surabaya 2026.
</description>
					                </item><item>
						                <title>Menyingkap Kabut Sejarah Syekh Siti Jenar</title>
						                <link>https://husnumufid.my.id/berita/detail/menyingkap-kabut-sejarah-syekh-siti-jenar</link>
						                <description>
oleh : Hamdan Suhaemi 

Latar Belakang

Ada yang bertanya tentang Syekh Siti Jenar dari penyaksiannya lihat film layar lebar Wali Songo dan film Sunan Kalijaga dan Syekh Siti Jenar, pertanyaan tersebut tentang siapa Siti Jenar itu?, darimana asal usulnya? lalu kenapa dihukum penggal oleh Sultan Demak Raden Fatah karena dianggap mengajarkan tentang hakikat pada penduduk Jawa, padahal mereka baru masuk IsIam, tentu yang perlu dikenalkan terlebih dulu adalah tentang tauhid dan tentang ibadah. Menjadi kesalahan fatal yang dituduhkan pada Syekh Siti Jenar karena berdampak menyimpang dan menyesatkan penduduk Jawa. 

Peristiwa itu terjadi di abad 15 Masehi, tidak jauh waktunya dari penobatan Raden Fatah bin Prabu Brawijaya V menjadi Sultan pertama Kerajaan Islam Demak. Menurut Candra Sengkala, penobatan tersebut diketahui sengkala " Geni Mati Siniram Janma " dengan makna geni itu api dan berarti angkanya 4, lalu mati atau kematian angkanya 0, kata siniram berarti disiram punya makna angka 4, sedangkan janma itu artinya manusia dengan makna angka 1. Jika dijumlah menjadi tahun 1404 dalam istilah saka, karena hitungan saka itu dibalik, maka tahun tersebut bertepatan  dengan tahun 1481 atau1482 Masehi. 

Asal Usul 

Menurut Ahmad Chodjim dalam bukunya Syekh Siti Jenar : Makna Kematian, penerbit Serambi tahun 2002, hlm. 5, bahwa Syekh Siti Jenar itu bernama asli Sayid Hasan Ali Anshar putera dari Syekh Sayid Datuk Soleh, adik dari Syekh Sayid Datuk Kahfi Cirebon. 

Sedangkan menurut naskah Wangsakerta, sarga III, pupuh 76 dijelaskan bahwa Syekh Siti Jenar itu bernama asli Sayid Abdul Jalil bin Sayid Datuk Soleh yang lahir di tanah Malaka pada tahun 1426 M. 

Berbeda dengan pendapat di atas, adalah D.A.Rinkes dalam bukunya The Nine Saint of Java, dengan mengutip naskah tulisan tangan Raden Ngabehi Soeradipoera yang menuturkan bahwa Syekh Siti Jenar bernama asli Abdul Jalil putera Sunan Gunung Jati, mungkin dimaksud Sunan Gunung Jati I yaitu Syekh Datuk Kahfi. 

Jika D.A Rinkes menyebutkan Sunan Gunung Jati atau Syekh Datuk Kahfi, maka ia adalah kakak dari Syekh Datuk Soleh yang wafat di Cirebon setelah lama mukim di Malaka dan hijrah ke Cirebon, setahun kemudian Syekh Datuk Soleh wafat meningggalkan istrinya yang tengah hamil, setelah itu lahirlah Abdul Jalil dan dihubungkan sebagai puteranya Syekh Datuk Kahfi. Karena itu Rinkes mencatatkan tempat dan tahun kelahiran Abdul Jalil alias Siti Jenar itu di Pakuwan Caruban ( Cirebon) pada tahun 1426. 

Menuntut Ilmu 

Ketika masih kecil Abdul Jalil bin Sayid Datuk Soleh ini diantarkan oleh Ki Danusela, sahabat karib ayahnya ke pesantren yang diasuh oleh Syekh Sayid Datuk Kahfi di Giri Amparan Jati, selang beberapa tahun setelah santri angkatan pertama adalah Pangeran Walangsungsang dan Dewi Lara Santang yang keduanya adalah putera puteri Prabu Siliwangi, Raja Agung Pajajaran. 

Menurut Damar Shasangka dalam karyanya Sekelumit Kisah Sunan Kajenar atau Syekh Siti Jenar, bahwa setelah penguasaan ilmu agama IsIam dari uwaknya tersebut, Abdul Jalil atau Hasan Ali Anshar pergi belajar hingga ke pedalaman Pajajaran untuk berguru pada pertapa Budha dan ahli Yoga Hindu. Hingga Abdul Jalil mampu menguasai empat tahap Yoga dari Rontal Catur Viphala, yaitu Nis-Prha, Nir-Hana, Nis-Kala, dan Nis- Asraya. Dari penguasaan tahapan 4 Yoga tersebut, Abdul Jalil mencapai puncak kesadarannya yaitu bahwa seluruh alam adalah satu kesatuan. 

Setelah dari pedalaman Pajajaran, Abdul Jalil melanjutkan perjalanan menuntut ilmunya ke Palembang kepada Arya Damar, seorang bangsawan Majapahit putera dari selir Prabu Wikramawardhana yang berkedudukan di Palembang. Arya Damar seorang penguasa Palembang yang cukup alim karena ia murid Sayid Ibrahim Samarkand ( ayah Sunan Ampel). 

Dari Palembang menuju Malaka, negeri yang berada di selat yang strategis lalu lalang kapal niaga Nusantara. Abdul Jalil berguru pada seorang ulama besar yaitu Syekh Datuk Ahmad  yang kebetulan adalah kakak dari ayahnya. Oleh uwaknya inilah nama Abdul Jalil disematkan kepadanya, karena nama lahirnya adalah Hasan Ali Anshar atau logat Cirebonnya Kasan Ali. 

Menurut Agus Sunyoto dalam Atlas Wali Songo ( hlm. 318-319 ) bahwa setelah menuntut ilmu di Malaka, Abdul Jalil lalu melanjutkan pengembaraannya ke negeri Baghdad dan Persia selama 17 tahun, ia berguru terutama pada ulama Sufi. Hingga Abdul Jalil mampu menguasai kitab Ihya ulumuddin Imam Ghazali, Fushushul Hikam Ibnu Aroby, karya karya Imam Abu Yazid Albustomi, Haqiqatul Haqoiq, Insan Kamil dan Manazilul Ilahiyah nya Imam al-Jilli, dan pendalamannya atas pemikiran sufistiknya  Al-Hallaj. 

Bahkan Abdul Jalil tidak puas belajar di Baghdad, ia pun menuntut ilmu pada seorang ulama besar Syi'ah yaitu Mullah Muntadhar, pemuka Syi'ah Ismailiyah di Persia. Dari Mullah itulah corak sufismenya berbeda nantinya dengan umumnya para anggota Wali Songo lainnya. Bahkan sangat tajam perbedaannya. 

Menjadi Anggota Wali Songo

Dalam Carita Purwaka Caruban Nagari, Abdul Jalil setelah kepulangannya dari Persia dan masyhur dikenal Syekh Abdul Jalil memilih untuk tinggal di Krendashawa yang kebetulan tanah tempat tinggalnya tersebut berwarna merah, maka penduduk memanggilnya dengan Syekh Lemah Abang dan karena juga tanahnya agak kekuningan, ada yang memanggilnya dengan Syekh Siti Jenar. 

Menurut Damar Shasangka, Syekh Abdul Jalil pulang dari rihlah ilmiahnya dan kembali ke Cirebon itu tercatat di tahun 1463 M. Dari Ampeldenta mendengar nama masyhur Syekh Abdul Jalil yang tinggal di Krendashawa Cirebon, figur ulama yang alim allamah, seorang bangsawan Malaka, dan juga masih kerabat Kanjeng Sunan Ampel. 

Kanjeng Sunan Ampel meminta Syekh Abdul Jalil untuk bergabung dalam majlis ulama yang arah besarnya adalah dakwah Islam agar merata ke seluruh Nusantara. Majlis ulama itu lalu lebih masyhur dikenal Majlis Wali Songo ( sembilan Wali) dan dipimpin oleh maha guru Syekh Sayid Ali Rahmatullah, mursyid tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah yang kemudian lebih dikenal dengan Susuhunan Ampeldenta atau Sunan Ampel. 

Siti Jenar Nyeleneh 

Dalam rentang waktu mengajar santri di Krendashawa, Syekh Siti Jenar dianggap terlalu terbuka dalam menjabarkan hakikat sifat 20 tanpa " tedheng aling-aling ". Hemat penulis mungkin Syekh Siti Jenar tidak lihat lihat siapa yang tengah belajar, sispa yang jadi mustamiinnya, pukul rata seolah di hadapannya orang-orang yang sudah paham agama dengan benar. 

Mungkin saat itu Syekn Siti Jenar tengah mengajarkan konsep '" Kam munfashil dan Kam Muttashil " dengan sangat terbuka, hingga ini yang dianggap pemicu awal  ketidaksepakatan Wali Songo lainnya terhadap ajaran yang disampaikan Syekh Siti Jenar tersebut. Karena dianggap akan membahayakan penduduk Jawa yang baru masuk IsIam. 

Bahkan masih menurut Agus Sunyoto, bahwa Syekh Siti Jenar lebih sering mengklaim " Aku adalah Allah ( ana al-haq), akulah yang sejati, tidak ada yang lain yang disebut ilahi ". Ini bisa jadi pernyataan teologis yang paling fatal di saat mana penduduk Jawa baru masuk IsIam dan sama sekali belum paham apa itu Islam. 

Murid - Murid 

Dalam Babad Jaka Tingkir tercatat nama-nama murid Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang antara lain : Ki Ageng Banyu Biru, zki Ageng Getas Aji, Ki Ageng Balak, ki Ageng Butuh, Ki Ageng Ngerang, Ki Ageng Jati, Ki Ageng Watalunan, ki Ageng Pringapus, ki Ageng Nganggas, ki Ageng ngambat, ki Ageng Babadan, ki Ageng Wanantara, ki Ageng Majasta, ki Ageng Karanggayam, ki Ageng Ngargaloka, ki Ageng Kayupring  ki Ageng Selandaka dan santri yang paling utama adalah Ki Ageng Tingkir atau Pangeran Kebo Kenongo dan nama lainnya Ki Ageng Pengging. 

Fatwa Hukuman Mati 

Berbagai sumber baik dari sumber Carita purwaka Caruban Nagari, Serat Siti Jenar, Babad Cirebon, Serat Siti Jenar, Babad Poerworedja, Historiografi Jawa Tengah, dan Historiografi Cirebon semua mendeskripsikan kematian Syekh Siti Jenar akibat keputusan hukum mati yang dikeluarkan oleh Majlis Wali Songo. 

Tetapi menurut Muhammad Solikhin dalam karyanya Ternyata Syekh Siti Jenar Tidak Dieksekusi Wali Songo ( Erlangga, tahun 2008 ) menjelaskan bahwa sebenarnya Syekh Siti Jenar tidak pernah dieksekusi mati akibat dari ajarannya yang nyeleneh tersebut, tentang konsep teologisnya " Manunggaling Kawula Gusti ". Karena ternyata berdasarkan penelitian, bahwa bukan Siti Jenar yang secara terbuka mengajarkan soal menyingkap rahasia wujud Allah kepada penduduk Jawa, namun ada yang mengatasnamakan Syekh Siti Jenar, yang mungkin secara langsung orang tersebut telah menerima ajaran tersebut dari Syekh Siti Jenar dengan tidak diperintahkan untuk mengajarkan hal tersebut kepada penduduk Jawa. 

Penutup 

Sejarah perlu dibuka kembali, karena sejarah akan dikuatkan oleh bukti bukti yang mencatatnya, dan ternyata bukti tersebut seringnya datang belakangan di saat justifikasi sejarah menjadi kepastian yang tak bisa dirubah. Inilah kerja sejarawan, ahli sejarah dan pakar sejarah agar meluangkan waktu untuk meluruskan sejarah yang ternyata diisi oleh sentimen kekuasaan dan pengkhianatan. 

Serang 18 April 2026
</description>
					                </item><item>
						                <title>Beragama atau Diperdagangkan? Saat Khurafat, Kuburan, dan Sejarah Palsu Jadi Alat Menjajah Akal Umat</title>
						                <link>https://husnumufid.my.id/berita/detail/beragama-atau-diperdagangkan-saat-khurafat-kuburan-dan-sejarah-palsu-jadi-alat-menjajah-akal-umat</link>
						                <description>OLEH:
Diar Mandala
Kolumnis Menara Madinah

 menaramadinah.com
Kita sedang menyaksikan kebangkrutan akal sehat yang dilegalkan atas nama agama. 

Lihatlah panggung di hadapan kita: Pertama, mimbar-mimbar yang dulu tempat ilmu, kini jadi panggung sirkus khurafat. Dalil diganti mimpi, sanad diganti “kata guru saya”, akal sehat dilecehkan demi karomah yang memalukan syariat. Kedua, kebun singkong semalam bisa naik pangkat jadi “maqam wali” besok pagi. Besoknya lagi sudah ada kijing, sudah ada yayasan, sudah ada bus peziarah, sudah ada kotak amal yang menganga. 
Ketiga, darah Rasulullah SAW yang suci kini diobral seperti ijazah paket C. Cukup PDF satu lembar, maka nama kemarin sore langsung jadi “cucu ke-40”.

Ini bukan dakwah. Ini penipuan yang dibungkus sorban.
*1. Khurafat: Candu yang Dijual di Mimbar*
Khurafat adalah bisnis paling tua dan paling licik. Modalnya cuma satu: membunuh logika jemaah.

“Guru saya bisa baca isi hati kalian.” “Kalau tidak ziarah ke sini, anak kalian sakit.” “Mimpi ketemu saya sudah cukup jadi tiket surga.”

Kalimat-kalimat sampah seperti ini seharusnya membuat kita muntah. Tapi anehnya, kita justru bertepuk tangan. Kita membayar untuk dibodohi. Kita menyerahkan dompet demi ditipu. Ini bukan mahabbah. Ini perbudakan yang kita nikmati.

*2. Kuburan Palsu*: Properti Paling Menguntungkan
Tanya warga sepuh di kampung. Mereka akan jawab lirih: “Dek, tahun 2022 itu masih galengan sawah.” Hari ini sudah ada nama “Syekh”, sudah ada haul, sudah ada pelataran parkir.

Luar biasanya penipuan ini: ia kebal kritik. Siapa yang bertanya, dituduh menentang wali. Siapa yang menyelidik, dituduh tidak punya adab. Kesakralan palsu menjadi tameng dari kebusukan yang nyata. Dan kita, dengan bodohnya, ikut menyumbang semen untuk membangun penjara akal kita sendiri.

*3. Silsilah Palsu: Menghina Rasulullah Demi Panggung*  
Ilmu nasab itu sakral. Ia dijaga para naqib, ditulis dengan tinta emas, diuji dengan saksi dan kitab. Hari ini ia dijual kiloan di grup WhatsApp.

Tujuannya telanjang: membangun tembok kekebalan. Sekali menyandang stempel “durriyah”, maka kritik kepadanya berubah jadi “melawan ahlul bait”. Perintahnya menjadi titah. Kesalahannya menjadi “kekhilafan yang diampuni”. Ini bukan mencintai Nabi. Ini melacurkan nama Nabi untuk membeli panggung dunia.

*4. Bongkar Motifnya: Mereka Bukan Pendakwah, Mereka Pedagang*  
Ini bukan dakwah yang salah jalan. Ini kejahatan yang memang dirancang. Motifnya tiga:

Satu, Dagang Identitas. Karena tidak punya ilmu, tidak punya sanad, tidak pernah tirakat, maka mereka menciptakan identitas sendiri. Caranya? Bangun kuburan, lalu angkat diri jadi kuncennya. Seketika dianggap alim tanpa pernah ngaji.

Dua, Dagang Uang. Khurafat + Kuburan = mesin uang yang tidak kenal krisis. Selama umat mau takut dan mau bodoh, maka mesin kasir mereka tidak akan pernah berhenti berbunyi.

Tiga, Dagang Kuasa. Ini tujuan akhirnya. Semua dagangan identitas dan uang itu hanya bahan bakar untuk satu hal: *menduduki pucuk ormas-ormas besar umat*. Sebab di republik ini, siapa yang pegang komando ormas terbesar, dia pegang jutaan kepala yang siap sami’na wa atha’na. Dari sana, negara ini bisa disetir tanpa perlu kudeta. Cukup kudeta akal pengikutnya.

*5. Bercermin pada Ulama Pribumi*: Yang Tidak Dijual dan Tidak Menjual
Lihatlah ulama-ulama kampung kita. Surau kecil, kitab kuning, nama tak dikenal media. Makamnya pun rata dengan tanah.

Tapi hidup mereka hanya untuk satu hal: Qalallah, Qala Rasulullah. Tidak jualan mimpi, tidak bangun makam untuk diri, tidak sibuk memburu pengakuan wali atau durriyah. Satu-satunya yang mereka takutkan adalah hisab Allah karena menyembunyikan ilmu.

Bandingkan dengan mereka yang takutnya hanya satu: kehilangan panggung dan pengikut. Beda antara langit dan comberan.

Yang satu dicari umat karena ilmunya. Yang satu mencari umat karena lapar pengakuan.

Penutup: Penjajah Itu Kini Memakai Peci
Penjajahan paling paripurna adalah ketika korbannya berterima kasih pada penjajahnya. Hari ini kita berterima kasih kepada orang yang menjual agama kita, menipu kantong kita, dan membunuh akal kita.

Mereka tidak takut polisi. Tidak takut UU ITE. Mereka hanya takut pada satu hal: umat yang berhenti bodoh dan mulai bertanya.

Maka bertanyalah. Tanya dalilnya. Tanya kitabnya. Tanya sanadnya. Tanya saksinya. Jika jawabannya hanya “iman saja, jangan banyak tanya”, maka ketahuilah: Anda sedang diajak masuk ke kandang.

Agama ini tegak di atas ilmu, bukan di atas pokoknya. Jika kita biarkan ormas-ormas besar jatuh ke tangan para pedagang ini, maka yang dilelang bukan lagi surga. Yang digadaikan adalah Indonesia.

Wallahu a’lam bish shawab.
</description>
					                </item><item>
						                <title>Sanad Yasin Fadilah dan Tahlil dari Sunan Ampel</title>
						                <link>https://husnumufid.my.id/berita/detail/sanad-yasin-fadilah-dan-tahlil-dari-sunan-ampel</link>
						                <description> 

Oleh: KH Imaduddin Utsman Al-Bantani

Alhamdulillah pada hari Rabu, 15 April 2026, selain penulis diperlihatkan puluhan dari ratusan manuskrip peninggalan Sunan Ampel, Sunan Derajat dan keturunannnya, penulis juga diberikan ijajah sanad keilmuan dari jalur Sunan Ampel oleh cucu Sunan Ampel garis laki, Kiai Raden Mas Salim (Kiai Salim), di Bantarsari cilacap Jawa Tengah. sanad itu meliputi pengijajahan seluruh kitab yang terdapat dalam ratusan manuskrip yang dimiliki Kiai Salim dari leluhurnya yang berangka tahun dari mulai abad ke 15-19 Masehi. Manuskrip-manuskrip itu terdiri dari Al Qur’an milik atau ditulis oleh Maulana Muhammad Arif bin Sunan Drajat tahun 994 H. (1586 M.), Kitab fiqih yg milik atau ditulis oleh Maulana Muhammad Ilyas bin Maulana Muhammad Bin Maulana Muhammad Arif, Kitab fiqih dan tauhid milik atau karya Maulana Muhammad Zam Zam, Kitab Al Qur’an milik atau ditulis oleh Maulana Nur Muhammad, Kitab fiqih milik atau karya Muhammad Nur Rohman, Kitab fiqih milik atau karya Muhammad Huda, Kitab Fiqih dan tauhid milik atau karya Muhammad Aliah Al Madani, Kitab fiqih milik atau karya Muhammad Musa, Kitab Tauhid, thoriqoh dan hakekat karya atau milik Sunan Drajat yang mendapatkannya dari Sunan Gunung jati Cirebon.

Di antara manuskrip-manuskrip itu terdapat dua manuskrip kecil yang berisi susunan Tahlil dan Yasin Fadilah. Manuskrip yasin Fadilah ditulis oleh Maulana Muhammad Ilyas (hidup sekitar tahun 1590 M.) , sedangkan manuskrip susunan Tahlil yang dijajahkan kepada penulis itu ada dua manuskrip, menurut Kiai Salim yang pertama ditulis oleh Sunan Ampel sendiri dan yang kedua ditulis oleh Maulana Muhammad Zamzam (sekitar tahun 1630 M.) cucu ke-5 Sunan Ampel. Kedua manuskrip kecil itu membuktikan secara historis, bahwa susunan tahlil dan Yasin Fadilah yang biasa diamalkan umat Islam Indonesia sekarang sudah ada sejak masa Walisongo dan diajarkan secara turun temurun oleh Walisongo kepada murid-murid dan keturunannya sampai hari ini.

Yasin fadilah yang beredar sekarang sering disebut susunan Sayyid Haqi Annazili pengarang kitab Khazinatul Asrar yang wafat di Makkah tahun 1884 M., tetapi berdasarkan manuskrip Bantarsari ini, Yasin Fadilah di Nusantara sudah ada sejak masa Maulana Muhammad Ilyas cicit Sunan Ampel yang hidup sekitar tahun 1590 M. Kemungkinan besar ia mendapatkannya dari ayahnya (Maulana Muhammad), lalu ayahnya mendapatkannya dari ayahnya (Sunan Derajat), lalu Sunan Derajat mendapatknanya dari ayahnya Sunan Ampel. Kemungkinan sanad Sunan Ampel dan Sayyid Haqi Annazili bertemu di 400 tahun sebelumnya sehingga kemudian meriwayatkan Yasin fadilah yang sama. Ini membuktikan bahwa keilmuan ulama Nusantara memiliki keautentikan dan ke-upatodate-an yang simultan dengan keilmuan Islam yang berkembang di belahan dunia lain di setiap masa sejak masa Walisongo.

Dengan ditemukannya mansukrip-manuskrip peninggalan Sunan Ampel dan Sunan Derajat ini tarnsmisi keilmuan Walsiongo kepada ulama Indonesia hari ini telah menemui jalan yang semakin terang benderang. Kitab-kitab fikih yang besar yang terdapat dalam manuskrip-manuskrip itu membuktikan bahwa keilmuan ulama-ulama Nusantara tidak hanya dibuktikan secara historis sejak berangkatnya Aria Wangsakara ke Makkah pada tahun 1634 M. yang meninggalkan manuskrip Al-As’ilah al-Jawiyah, tetapi juga telah berkembang sebelumnya secara masiv di masa Sunan Ampel dan Sunan Derajat.

Dengan ditemukannya manuskrip Bantarsari ini mudah-mudahan manuskrip-manuskrip Walisongo lainnya akan juga dapat ditemukan, sehingga sejarah tentang Walisongo dan keilmuannya bukan hanya kitab isa dapatkan melalui manuskrip-manuskrip abad 18 dan 19 Masehi yang bias kolonial.

Penulis mendapatkan kepercayaan dari Kiai Raden Muhammad Salim untuk mengijazahkan tahlil Sunan Ampel dan Yasin fadilah serta Asmaul Husna dari Sunan Ampel kepada umat Islam. Adapun sanad keilmuan penulis sampai Sunan Ampel dan Sunan Gunung Jati sesuai ijajah dari Kiai Salim adalah:

Sanad Keilmuan dari Sunan Ampel dan Sunan Gunung Jati Cirebon:

1. Sunan Ampel (Maulana Ali Rahmatullah) dan Sunan Gunung Jati Cirebon
2. Sunan Derajat bin Sunan Ampel
3. Maulana Muhammad Arip
4. Maulana Muhammad
5. Maulana Muhammad Ilyas
6. Maulana Muhammad Zamzam
7. Maulana Nur Muhammad
8. Maulana Muhammad Nururahman
9. Maulana Muhammad Huda
10. Maulana Muhammad Aliyah
11. Maulana Muhammad Musa
12. Maulana Muhammad Hasan
13. Maulana Muhammad Isa
14. Kiai raden Mas Muhammad Jufri
15. Kiai Raden Mas Muhammad Mughni
16. Kiai Raden Mas mUhammad Salim Cilacap
17. KH Imaduddin Utsman Al-Bantani Banten

Selesai.
</description>
					                </item><item>
						                <title>  *Renungan Jiwa\\</title>
						                <link>https://husnumufid.my.id/berita/detail/--renungan-jiwa</link>
						                <description>Dr. Ir. Hadi Prajoko, SH, MH.

Ketauladanan hidup 

ADAB BERGAUL DAN MENJAGA RUANG
Antara Membuka Pintu dan Menentukan Batas

Dalam hidup bermasyarakat, manusia itu ibarat rumah yang selalu punya dua kemungkinan:
dibuka pintunya, atau ditutup rapat-rapat.

Ada orang yang memilih menutup diri, menjaga agar tak ada yang mengganggu.
Ada pula yang membuka lebar, menerima siapa saja tanpa banyak tanya.
Di antara keduanya, ada satu jalan yang lebih halus:
    membuka pintu dengan hati, 
    dan menjaga kunci dengan akal.
*

ORANG BAIK: BUKAN YANG TERLIHAT, TAPI YANG TERASA

Orang baik itu bukan selalu yang dipuji, bukan pula yang tak pernah dituding.
Kadang justru:
ia terbuka pada yang mungkin menyakitinya,
tetap rendah hati saat disanjung,
tetap tenang saat diremehkan,
tetap menolong, bahkan pada yang pernah mencelakainya.

Bukan karena ia tak tahu risiko, tapi karena ia punya daya tampung yang luas. Dan dari situlah muncul satu tanda yang tak bisa dibuat-buat:
> Orang datang bukan karena sepakat,
   tapi karena merasa aman.

Rumah seperti ini tak pernah sepi.
Bukan karena ia mengundang,
tapi karena ia tidak pernah menolak kunjungan dan tak pernah tega mengusir meski cara halus. 
*

YANG DATANG: BUKAN SELALU YANG BAIK-BAIK SAJA

Sering orang keliru menilai:
“Kalau benar ia baik, kenapa yang datang justru orang-orang bermasalah?”

Padahal hukum alamnya sederhana:
> Yang terluka mencari yang tak menyakiti.
   Yang bingung mencari yang tak menghakimi.

Maka jangan heran, yang datang justru:
yang jatuh,
yang salah,
yang belum selesai dengan dirinya sendiri.
Mereka tidak mencari hakim.
Mereka mencari tempat yang nyaman. 

Namun di sinilah ujian dimulai:
> Apakah ia ikut hanyut,
   atau tetap menjadi arah?
   Jika ia ikut rusak, ia terseret.
   Jika ia tetap tegak, ia menjadi poros.

Tentu saja orang baik itu sudah punya jawaban jitu, dan dia tak perlu seorang penilai untuk itu. 
*

PUJIAN DAN TUDINGAN: DUA TAMU YANG TAK PERLU DITAKUTI

Dalam pergaulan, akan selalu ada dua hal yang datang silih berganti: pujian dan tudingan.
Yang satu mengangkat,
yang satu menjatuhkan.
Namun keduanya punya jebakan yang sama: menjadikan kita hidup dari luar diri.

Maka sikap yang matang bukan:
menolak pujian mentah-mentah,
atau sibuk membela diri dari tudingan,
melainkan:
> menerima tanpa melekat,
   dan membiarkan tanpa terpancing.

*Pujian didengar, tapi tidak dijadikan ukuran.*

Tudingan dilihat, tapi tidak dijadikan pusat perhatian.
Karena ada waktunya menjelaskan,
dan ada waktunya cukup diam.


*BATAS: KETIKA PINTU TAK HARUS SELALU TERBUKA*

*Namun keterbukaan tanpa batas bukan kebijaksanaan*
*Ia bisa menjadi celah bagi kerusakan*

Tidak semua yang datang adalah tamu.
Sebagian hanya ingin memastikan rumah itu tak pernah tenang.
Di sinilah orang baik harus belajar satu hal yang paling sulit:
> menolak tanpa kehilangan kemanusiaan, dan kehilangan martabat.

Menolak bukan berarti membenci.
Menutup pintu bukan berarti mengusir dengan kasar.
Tapi sekadar:
    tidak melayani percakapan yang berulang tanpa 
   arah,
   tidak memberi ruang pada provokasi, dan 
   tidak menjadikan keributan sebagai kewajiban 
   untuk dijawab.

Karena:
> Tidak semua tudingan mencari kebenaran.
   Sebagian hanya mencari panggung, tidak membagi wawasan*


*MEMBACA NIAT: ILMU YANG TAK TERTULIS*

Dalam setiap pertemuan, manusia membawa niatnya masing-masing.
Ada yang datang dengan gelas kosong,
ada yang datang membawa api.
Yang satu bertanya untuk memahami.
Yang satu bertanya untuk menyerang.
Perbedaannya bukan pada kata,
tapi pada sikap:
   yang satu mendengar,
   yang satu menunggu giliran bicara.
   yang satu bisa berubah,
   yang satu hanya ingin menang.

Dan cara paling mudah mengenalinya adalah ini:
> Ketika tidak dilayani,
   yang mencari kebenaran akan tetap tenang,
   yang mencari keributan akan gelisah.


*MENJAGA RUANG: AGAR TETAP MENJADI TEMPAT TEDUH*

Ruang yang sehat bukan yang selalu ramai,
tapi yang tetap jernih.
Jika semua orang dilayani tanpa batas, maka yang datang bukan lagi mencari teduh, tapi menjadikan tempat itu gelanggang.
Maka perlu satu garis yang jelas:

> Menerima orangnya,
   tidak selalu menerima perbuatannya.

Dan dari sinilah 

*Keseimbangan itu lahir,*
*antara kasih dan ketegasan,*
*antara lapang dan batas-batas jiwa' murni*


 Sari renungan pagi;

*Akhirnya, hidup dalam pergaulan bukan soal menjadi baik di mata orang,*
tapi menjadi tempat yang benar bagi orang lain tanpa kehilangan diri sendiri.

> Tidak semua yang mengetuk pintu harus   
    dipersilakan masuk.
   *Tidak semua tamu yang  datang harus diusir.*

> Bukalah pintu dengan hati,
   dan kuncilah dengan aka Waras dan NALAR INTUITIF l—
   agar rumahmu tetap menjadi tempat teduh, adem ayem tentram bahagia, saling hormat menghormati....
   *bukan panggung keributan.*


Seorang yang selalu menerima kunjungan banyak orang dari berbagai latar belakang dan kepentingan.

Produser kesadaran 

Gus WARAS
</description>
					                </item><item>
						                <title>Prof. Mas’ud Said Ajak Pengurus Refleksi: Seberapa Besar Kontribusi Kita Bagi ISNU?</title>
						                <link>https://husnumufid.my.id/berita/detail/prof-mas’ud-said-ajak-pengurus-refleksi-seberapa-besar-kontribusi-kita-bagi-isnu</link>
						                <description>SURABAYA, 18 April 2026 – Dalam suasana penuh kekeluargaan dan kebersamaan pada acara Halal Bihalal serta Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) III PW ISNU Jawa Timur di Hotel Leedon, Wakil Ketua Umum PP ISNU, Prof. Dr. H.M. Mas’ud Said, menyampaikan pesan mendalam yang menggugah kesadaran.
 
Beliau mengajak seluruh pengurus dan kader untuk melakukan refleksi diri, menilai seberapa besar dedikasi yang telah diberikan, serta meyakini bahwa berkhidmat di organisasi ini adalah salah satu jalan mulia menuju amal saleh dan keridhaan Allah SWT.

Empat Pilar Refleksi: Menggugah Hati dan Pikiran
 
Prof. Mas’ud Said, yang dikenal aktif dan produktif baik di bidang akademik, profesional, maupun sosial kemasyarakatan, mengemukakan empat pertanyaan kunci yang sarat makna untuk direnungkan bersama.
 
1.Bisakah ISNU Menjadi Jalan Lain Menuju Amal Saleh?
 
Prof. Mas’ud menegaskan bahwa berkhidmat kepada ISNU bukan sekadar aktivitas organisasi biasa, melainkan memiliki dimensi spiritual yang sangat tinggi.
 
"Bisa jadi, salat, puasa, dan amal ibadah kita yang lain mungkin biasa-biasa saja. Namun, lantaran kita ikhlas mengabdi dan berkhidmat kepada ISNU, maka itu semua menjadi sarana dan lantaran untuk memperoleh pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT," ujarnya tegas.
 
Artinya, keaktifan di organisasi ini adalah bentuk ibadah nyata yang menyatukan antara urusan duniawi dengan tujuan ukhrawi.
 
 2.Yakinkah atau Sudahkah Kita Berkontribusi Secara Positif?
 
Beliau mengajak seluruh hadirin untuk berani melakukan muhasabah atau evaluasi diri secara jujur.
 
"Coba kita tanya pada diri sendiri: Bidang apa yang sudah kita sumbangkan sehingga menjadi pembeda? Kalau kehadiran kita dan ketidakhadiran kita rasanya sama saja, lalu apa gunanya kita berada di sini?" tandasnya dengan bahasa yang lugas namun menyentuh.
 
Pertanyaan ini mengingatkan bahwa setiap pengurus harus memiliki nilai tambah dan memberikan dampak nyata, bukan hanya sekadar menjadi "hiasan" organisasi.
 
 3 Sudahkah Kita Menghayati dan Menguatkan Keyakinan?
 
Prof. Mas’ud Said menekankan pentingnya menjaga dan merawat keyakinan bahwa berjuang di ISNU adalah sebuah thoriqoh atau jalan kebaikan.
 
"Jalan khidmat kepada ISNU ini harus benar-benar dihayati. Keyakinan bahwa ini adalah jalan yang berkah, jalan yang benar, perlu terus dipelihara dan ditingkatkan. Jangan sampai semangat itu luntur hanya karena ujian zaman," pesannya.
 
4.Momentum Halal Bihalal: Mempererat Tali Silaturahim
 
Di samping refleksi organisasi, acara ini juga menjadi momen sakral untuk saling memaafkan.
 
"Kesempatan ini kita manfaatkan untuk saling bermohon maaf dan musafahah. Ini adalah sarana paling ampuh untuk mempererat tali persaudaraan, meluruhkan ego, dan menyatukan kembali hati demi kekuatan organisasi yang lebih solid," tambahnya.
 
Ajakan refleksi dari Prof. Mas’ud Said ini menjadi tamparan lembut namun keras bagi setiap insan pengurus. Bahwa menjadi bagian dari ISNU adalah sebuah kehormatan sekaligus amanah besar.
 
Mari kita jadikan momen Muskerwil ini sebagai titik balik untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas pengabdian, dan meyakini sepenuh hati: Berkarya di ISNU adalah cara kita beribadah, dan berkontribusi adalah bukti cinta kita pada agama dan bangsa.
 
Semoga langkah kita selalu diberkahi dan diterima sebagai amal saleh di sisi-Nya. Aamiin.*Imam Kusnin Ahmad*
</description>
					                </item><item>
						                <title>Apresiasi Ketum PP ISNU: Dedikasi Jatim Adalah Ikhtiar Nyata Bangsa</title>
						                <link>https://husnumufid.my.id/berita/detail/apresiasi-ketum-pp-isnu-dedikasi-jatim-adalah-ikhtiar-nyata-bangsa</link>
						                <description>SURABAYA, 18 April 2026 – Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU), Prof. Kamaruddin Amin, Ph.D., memberikan apresiasi tinggi terhadap semangat, dedikasi, dan khidmat yang ditunjukkan oleh seluruh pengurus Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jawa Timur.
 
Pujian tersebut disampaikannya secara langsung saat memimpin jalannya Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) III ISNU Jawa Timur yang berlangsung khidmat dan penuh semangat di Leedon Hotel & Suites, Surabaya, Sabtu (18/04/2026).
 
Dalam arahannya, Prof. Kamaruddin Amin menegaskan bahwa setiap bentuk pengabdian dan kerja keras di dalam organisasi bukan sekadar aktivitas rutin, melainkan merupakan ikhtiar nyata yang memiliki nilai besar bagi kemajuan bangsa dan negara.
 
"ISNU harus menjadi wadah strategis bagi para sarjana untuk terus meningkatkan kualitas diri serta kapasitas intelektualnya. Kita tidak boleh hanya diam, tapi harus ambil bagian secara aktif, berkontribusi, dan memainkan peran kunci dalam pembangunan Indonesia sesuai dengan kapasitas masing-masing," tegas Prof. Kamaruddin.
 
Lebih jauh, beliau menekankan pentingnya sinkronisasi gerakan organisasi dengan arah pembangunan nasional. Agar kontribusi ISNU semakin strategis dan berdampak luas, program-program yang dirumuskan harus selaras dan sejalan dengan visi besar negara.
 
"Kontribusi ISNU akan menjadi lebih strategis dan powerful jika searah serta sejalan dengan arah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Dengan demikian, karya kita benar-benar menjawab kebutuhan rakyat dan negara," tambahnya di hadapan ratusan delegasi dari berbagai kabupaten/kota se-Jawa Timur.
 
Dialog Interaktif: Gagasan Memuncak, Semangat Menggebu.
 
Suasana Muskerwil semakin hidup dan dinamis saat sesi dialog interaktif dibuka. Para pengurus dan tokoh dari berbagai lini memanfaatkan momen emas ini untuk menyampaikan gagasan, masukan, dan pemikiran strategis demi kemajuan organisasi.
 
Beberapa nama besar yang turut aktif memberikan kontribusi pemikiran antara lain:
 
- Prof. Moh. Yasin
- Sahabat Ghozali (Mojokerto)
- Prof. Setyo Gunawan (ITS)
- Ibu Dwi Astutik (Dewan Pendidikan Jatim)
- Ibu Siti Nur Husnul Yusmiati (Bidang Kesehatan)
- Serta para pengurus Cabang ISNU  lainnya, Sahabat  Arif dan Sahabat Hakam Sholahuddin dari PC Kabupaten Blitar.
 
Kehadiran dan partisipasi aktif dari berbagai disiplin ilmu ini membuktikan bahwa ISNU Jawa Timur adalah rumah bagi para intelektual yang visioner dan solutif.
 
Muskerwil III ini diharapkan menjadi pijakan kokoh bagi ISNU Jawa Timur untuk menyusun dan menguatkan program kerja ke depan. Kegiatan ini bukan hanya penting secara struktural organisasi, tetapi memiliki makna strategis yang berdampak langsung bagi kemaslahatan umat dan penguatan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
 
Dengan apresiasi dan arahan yang jelas dari pusat, serta semangat gotong royong dari seluruh elemen, ISNU Jawa Timur siap melangkah lebih maju, lebih besar, dan lebih bermanfaat.
 
Semoga segala ikhtiar dan dedikasi ini senantiasa diberkahi dan diridhai oleh Allah SWT. *Imam Kusnin Ahmad*
</description>
					                </item><item>
						                <title>ISNU Jatim Gelar Tiga Kegiatan Sekaligus,Libatkan Pelaku Usaha Kecil Menengah.</title>
						                <link>https://husnumufid.my.id/berita/detail/isnu-jatim-gelar-tiga-kegiatan-sekaliguslibatkan-pelaku-usaha-kecil-menengah</link>
						                <description>SURABAYA--Ekosistem ekonomi syariah di Jawa Timur, membutuhkan perhatian serius dari pelbagai kalangan. Sebagai tanggung jawab untuk memperkuat ekosistem ekonomi syariah itu, Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jawa Timur melalui Lembaga Solusi Halal (LSH) berkomitmen untuk meningkatkan daya saing Pelaku Usaha Kecil Menengah (UMK).

Di antara langkah strategisnya adalah melalui digitalisasi pemasaran produk yang telah bersertifikat halal ke dalam platform marketplace. Pelatihan Platform Marketplace bagi UMK dan P3H ISNU Jawa Timur, digelar Sabtu-Minggu, 18-19 April 2026 di Leedon Hotel & Suites,  Jl. Jaksa Agung Suprapto No.37, Ketabang, Surabaya.

"Pelatihan ini dirancang untuk mensinergikan pelaku usaha dengan Pendamping Proses Produk Halal (P3H) agar produk halal lokal dapat menjangkau pasar yang lebih luas secara profesional," tutur Prof. Dr. H. M. Afif Hasbullah, SH, MHum, Plt Ketua ISNU Jawa Timur dalam penjelasannya.

Pelatihan Platform Marketplace bagi UMK dan P3H ISNU Jawa Timur, diikuti sebanyak 120 peserta. Mereka adalah para pelaku usaha, berasal dari pelbagai daerah: Bangkalan, Gresik, Lamongan, Bojonegoro, Tuban, Mojokerto Raya, Malang Raya, Pasuruan Raya, Surabaya, Sidoarjo, Jombang, Nganjuk, Banyuwangi, Trenggalek, dan Sumenep.

Selain itu, ISNU Jawa Timur pada pagi harinya mengadakan Halal Bihalal dan Muskerwil III yang dihadiri sejumlah tokoh seperti Prof Kamaruddin Amin (Ketua Umum PP ISNU), Prof Kacung Marijan (Wakil Ketua PWNU Jawa Timur), Prof M. Mas'ud Said (Wakil Ketua Umum PP ISNU), dll.

Wakil Ketua PW ISNU Jatim, Dr Muhammad Yasin, berkesempatan memberi sambutan seraya mengingatkan pentingnya sinergi antara ISNU dan Pemprov Jatim dalam melakukan pelaksanaan program. 

"Kita bersyukur kondisi ekonomi global, namun tidak berpengaruh signifikan bagi Provinsi Jatim," tutur M Yasin. 

Ia pun menyambut ada perhatian ISNU yang mengadakan program untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dalam kaitan ini Marketpla Platform Marketplace bagi UMK. 

"Ini mendukung program Pemprov Jatim," tambahnya. 

*Platform Marketplace UMK*

"Sedikitnya, 145 anggota ISNU hadir dalam kegiatan halal bihalal dan Muskerwil III kali ini. Inilah forum untuk mengambil langkah strategis bagi kepentingan organisasi dan sebagai tanggung jawab intelektual NU untuk memajukan masyarakat," kata Ketua Pelaksana Pelatihan Platform Marketplace bagi UMK dan P3H ISNU Jawa Timur, H Sumangat. 

Para peserta mendapatkan sejumlah materi, seperti Ekspansi bisnis dan akses permodalan UMK, membangun dan mengelola usaha online, Strategi digital pemasaran, dan penguatan ekonomi bisnis di era digital.

"Kami menghadirkan pakar dan praktisi bisnis yang selaras dengan tujuan diadakannya pelatihan ini," tutur Sumangat.

Lebih ditambahkannya, secara luas pelatihan ini menjadi ikhtiar untuk meningkatkan literasi digital pelaku usaha binaan ISNU Jawa Timur. Juga, memberikan pendampingan teknis _on boarding_ (Pembukaan Toko) di marketplace).

Selain itu, dengan pelatihan ini akan mengoptimalkan strategi pemasaran dan penulisan deskripsi produk yang menarik. Bahkan, mampu memperkuat peran P3H dalam mendampingi aspek keberlanjutan bisnis UMK halal.*Imam Kusnin Ahmad*
</description>
					                </item></channel>
  	</rss>