Home Jurnal PENJILAT DAN TANDA-TANDA RUNTUHNYA SEBUAH NEGARA

PENJILAT DAN TANDA-TANDA RUNTUHNYA SEBUAH NEGARA

62
0
SHARE
PENJILAT DAN TANDA-TANDA RUNTUHNYA SEBUAH NEGARA

 

_Oleh: Arik S. Wartono_


Saya menulis esai ini bukan karena benci kepada Republik, melainkan karena cinta yang sudah terlalu cemas. Kita hari ini hidup di sebuah negara yang secara formal merdeka, tetapi secara batin sedang mengalami kegelisahan yang sama seperti yang pernah dialami Roma di abad ke-1, Sriwijaya di abad ke-11, dan Majapahit di abad ke-15: sebuah negara yang besar secara fisik, tetapi mulai rapuh secara jiwa karena dikelilingi oleh para penjilat.

Setiap bangsa yang ingin bertahan sepanjang zaman pasti punya ambisi untuk maju. Namun sejarah tidak pernah berbaik hati pada mereka yang abai pada tanda-tanda internalnya. Kita selalu mengira negara runtuh karena serangan dari luar. Padahal, hampir semua peradaban besar runtuh bukan karena musuh di perbatasan, melainkan karena racun di dalam istana. Dan racun yang paling mematikan itu bernama _sycophant_: penjilat sejati.

Esai ini adalah upaya untuk membongkar fakta bernegara kita hari ini, menengok kembali keagungan Nusantara lama, dan mencari jalan keluarnya bukan dengan teori impor, melainkan dengan kebijaksanaan _Nusantara Worldview_ kita sendiri.

*Sycophant: Penyakit Mematikan yang Membuat Kaisar Buta*

Istilah _sycophant_ dalam sejarah Romawi merujuk pada orang-orang di lingkar kekuasaan yang selalu memuji, menyetujui, dan membenarkan setiap ucapan pemimpin semata-mata untuk keuntungan pribadi. Mereka berkolaborasi menciptakan gelembung ilusi yang membuat penguasa merasa sempurna, maha tahu, dan kebal dari kesalahan.

Mari kita lihat empat potret yang sudah dicatat oleh para sejarawan Romawi seperti Suetonius dan Cassius Dio.

Caligula, kaisar yang berkuasa 37-41 M, dikelilingi para senator yang berlomba memberi sanjungan tertinggi. Mereka membiarkan Caligula hidup dalam fantasi bahwa dirinya adalah dewa yang hidup di bumi. Bahkan ketika Caligula merencanakan pengangkatan kuda kesayangannya Incitatus menjadi konsul tertinggi Roma, para penjilat tetap bertepuk tangan. Lingkungan penuh penjilat itu memicu kebencian diam-diam, dan Caligula akhirnya ditikam mati oleh Pengawal Praetoriannya sendiri.

Nero, kaisar 54-68 M, memiliki obsesi sebagai seniman terhebat. Setiap kali ia manggung di teater, para penjilatnya bersorak berlebihan, duduk berjam-jam demi mempertahankan posisi di istana. Akibatnya Nero sibuk dengan fantasinya dan abai pada krisis nyata Roma. Ketika pemberontakan pecah, ia kehilangan semua dukungan dan memilih bunuh diri dalam pelarian yang menyedihkan.

Domitianus, 81-96 M, menuntut dipanggil Dominus et Deus, Tuan dan Dewa. Senat menunduk demi jabatan. Pujian palsu yang terus-menerus membuatnya paranoid, mengeksekusi banyak tokoh atas dasar curiga. Ketakutan yang ia sebar di istana akhirnya berbalik: ia ditikam di kamarnya sendiri oleh staf istana yang setiap hari melayaninya.

Commodus, 180-192 M, lebih suka bertarung di arena gladiator daripada memerintah. Ia membantai binatang dari tempat aman di depan puluhan ribu penonton, sementara senator bersorak karena takut dieksekusi. Ia bahkan mengubah nama kota Roma dan nama bulan menjadi namanya sendiri. Pujian buta itu menutupi fakta bahwa Romawi sedang meluncur ke jurang kebangkrutan moral dan finansial. Ia akhirnya dicekik mati oleh rekan gulatnya sendiri di pemandian.

Dari keempat kisah ini, kesimpulannya sangat jernih: _sycophant_ adalah penyakit yang secara sistematis menutup mata dan telinga penguasa dari kebenaran pahit di lapangan. Seorang pemimpin yang cerdas butuh suara jujur yang berani mengkritik saat ia salah langkah. Kekuasaan yang hanya disokong puji-pujian palsu pasti rapuh dan mudah runtuh dari dalam.

*Sepuluh Tanda Kehancuran yang Sedang Kita Alami*

Jika Roma runtuh karena penjilat, maka tanda-tanda keruntuhan sebuah negara modern jauh lebih kompleks, tetapi polanya sama. Ada sepuluh alarm dini yang dalam dua puluh tahun terakhir mulai berbunyi terlalu keras di Republik ini.

_Pertama_, korupsi yang merajalela. Ketika uang negara hanya mengalir ke segelintir orang, kepercayaan publik hancur. _Kedua_, krisis moral dan hilangnya kejujuran, ketika perilaku curang dianggap biasa dan integritas dipandang sebagai kelemahan. _Ketiga_, ketimpangan ekonomi ekstrem, jurang antara si kaya dan si miskin yang melebar dan menjadi bom waktu sosial. _Keempat_, pendidikan yang merosot dan hilangnya _meritokrasi_, ketika ilmu tidak lagi dihargai dan generasi penerus kehilangan daya saing, keahlian dikalahkan oleh koneksi ordal (orang dalam). _Kelima_, pecahnya persatuan, ketika rakyat terbelah dalam fanatisme suku, agama, dan politik hingga musuh terbesar bukan lagi dari luar, melainkan dari dalam. _Keenam_, pemimpin yang haus kekuasaan dan tidak mau mendengar rakyat. _Ketujuh_, hukum yang tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas. _Kedelapan_, kerusakan lingkungan yang diabaikan, ketika alam dieksploitasi tanpa kontrol hingga bencana menjadi balasan. _Kesembilan_, hilangnya rasa memiliki terhadap negara, ketika rakyat tidak lagi cinta tanah air dan menganggap negara tidak penting. _Kesepuluh_, budaya malas dan mental instan yang menggantikan kerja keras dan inovasi.

Jika satu atau dua tanda muncul, itu saatnya introspeksi. Jika kesepuluh tanda itu terjadi sekaligus, seperti yang kita saksikan hari ini secara gamblang di depan mata, maka kehancuran hanya tinggal menunggu waktu. Bangsa kuat bukan yang bebas masalah, tetapi yang segera sadar sebelum terlambat.

*Kita Pernah Sangat Kaya, dan Kita Pernah Runtuh dengan Cara yang Sama*

Jauh sebelum Indonesia merdeka, Nusantara sudah dikenal sebagai pusat perdagangan dunia. Ini penting untuk diingat agar kita tidak merawat mental minder di hadapan bangsa lain.

Sriwijaya di pada abad ke-7 hingga ke-13 menguasai Selat Malaka. Kapal dari India, Arab, dan Tiongkok singgah. Ia menjadi pusat perdagangan terkaya di Asia Tenggara. Majapahit di Jawa Timur, selain mengandalkan pertanian, kekayaannya berasal dari perdagangan antarpulau dan upeti dari daerah bawahan. Wilayahnya sangat luas. Samudera Pasai di Aceh Utara, salah satu kerajaan Islam pertama, bahkan sudah mencetak mata uang emas sendiri untuk mendukung perdagangannya. Kerajaan Gowa di Makassar pada abad ke-16 hingga ke-17 menjadikan Pelabuhan Makassar sebagai salah satu pusat perdagangan terbesar di Asia. Kesultanan Banten pada abad ke-16 hingga ke-17 menguasai perdagangan lada yang harganya sangat tinggi. Tarumanegara di Jawa Barat membangun sistem irigasi yang membuat pertanian dan perdagangannya makmur.

Banyak sejarawan sepakat, Sriwijaya dan Majapahit adalah dua kerajaan paling makmur dalam sejarah Nusantara. Istilah terkaya di sini bukan soal angka pasti, melainkan pengaruh ekonomi dan luasnya jaringan peradaban.

Namun mengapa mereka runtuh? Jawabannya bukan karena miskin. Mereka runtuh karena sepuluh tanda di atas juga terjadi di sana. Kakawin _Nagarakretagama_ karya Mpu Prapanca tahun 1365 mencatat dengan jelas betapa Majapahit di puncak kejayaannya mulai sibuk dengan upacara dan pujian, sementara di daerah-daerah mulai terjadi pemberontakan karena pajak dan ketimpangan. Kidung Sunda mengisahkan bagaimana ambisi kekuasaan Gajah Mada yang haus legitimasi justru melukai persatuan. Naskah Sejarah Melayu mencatat bagaimana kesombongan dan korupsi orang-orang syahbandar di Melaka dan Pasai membuat rakyat kehilangan rasa memiliki. Hikayat Banjar mencatat bagaimana kerusakan hutan dan perebutan lada membuat lingkungan dan ekonomi runtuh.

Pola Romawi dan pola Nusantara adalah pola yang sama. Negara kaya bisa runtuh bukan karena kekurangan harta, tetapi karena kelebihan penjilat.

*Solusi dari Dalam: Nusantara Worldview*

Lalu bagaimana keluar dari lingkaran ini? Jawabannya tidak bisa diimpor dari Washington, London atau Beijing. Jawabannya harus digali dari Worldview kita sendiri.

Nenek moyang kita tidak mengenal konsep pemimpin yang maha tahu. Yang mereka kenal adalah konsep _Ratu Adil_ yang dalam _Serat Jayabaya_ digambarkan sebagai pemimpin yang mau mendengar suara wong cilik dan para resi, bukan suara para penjilat. Dalam konsep kepemimpinan Jawa, seorang raja harus memiliki sifat _Astabrata_, delapan laku dewa, salah satunya adalah laku Dewa Yama yang adil dalam menghukum tanpa pandang bulu, dan laku Dewa Surya yang menerangi, bukan yang ingin diterangi oleh pujian.

Dalam tradisi Minangkabau ada pepatah _Rajo dek musyawarah, musyawarah dek mufakat_. Raja ada karena musyawarah, musyawarah ada karena mufakat bersama. Tidak ada raja yang kebal kritik. Dalam sistem Subak di Bali yang diakui UNESCO, keputusan tidak diambil oleh satu penguasa, melainkan oleh _krama_ secara kolektif demi kebermanfaatan air. Itulah prinsip _migunani_ yang sudah saya singgung dalam esai sebelumnya: kebudayaan harus berguna untuk menjawab tantangan alam dan zaman, seperti yang dirumuskan Ki Hajar Dewantara, "Kebudayaan adalah buah budi manusia yang adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat: alam dan zaman."

Nusantara Worldview mengajarkan tiga penangkal sycophant:

Pertama, _laku tapa_ dan _lelaku_. Seperti kata para empu, keris tidak dibuat dalam sehari, ia ditempa dalam laku puasa dan pengetahuan tentang besi, api, dan doa. Pemimpin harus ditempa, bukan dipoles oleh pencitraan. Dalam Serat Wulangreh, Pakubuwono IV mengingatkan, _aja seneng dipuji, den memuji marang liyan_ - jangan senang dipuji, jangan memuji orang lain secara berlebihan.

Kedua, institusionalisasi kritik. Dalam tradisi kerajaan Jawa ada abdi dalem _carik_ dan _punokawan_ seperti Semar yang tugasnya justru mengejek raja agar raja tidak lupa diri. Kita perlu menghidupkan kembali fungsi Semar ini di DPR, di kampus, di pers, di dewan kesenian. Kekuasaan yang anti kritik adalah kekuasaan yang sedang memanggil kematiannya sendiri, seperti kata Tacitus, sejarawan Romawi: _Ubi solitudinem faciunt, pacem appellant_ - mereka menciptakan padang gurun dan menyebutnya kedamaian.

Ketiga, kembali ke ekonomi kebermanfaatan. Sriwijaya dan Majapahit runtuh ketika ekonomi hanya berpusat pada upeti dan perdagangan elit. Kita harus kembali pada ekonomi Subak, ekonomi lumbung desa, ekonomi yang migunani. Hilmar Farid mengingatkan, tradisi bukanlah barang antik di museum, melainkan pengetahuan hidup untuk memecahkan masalah hari ini.

Jika kita tidak melakukan ini, maka kita akan mengulang Commodus: mengubah nama bulan dan nama jalan dengan nama kita sendiri, sementara rakyat bersorak palsu karena takut.

Bangsa ini tidak butuh pemimpin yang banyak dijilat. Kita butuh pemimpin yang berani ditelanjangi oleh kenyataan. [*]


Gresik, 7 Oktober 2026

_Arik S. Wartono - Pendiri Sanggar DAUN, tinggal di Gresik_

---

*CATATAN KAKI*

1. Suetonius, _The Twelve Caesars_, trans. Robert Graves (London: Penguin Books, 2007), hlm. 148-165, tentang kehidupan Caligula.
2. Cassius Dio, _Roman History_, trans. Earnest Cary (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1927), Buku 59, tentang fantasi keilahian Caligula.
3. Tacitus, _The Annals of Imperial Rome_, trans. Michael Grant (London: Penguin Books, 1996), Buku 14-16, tentang Nero dan ketergantungannya pada pujian istana.
4. Winterling, Aloys, _Caligula: A Biography_, trans. Deborah Schneider (Berkeley: University of California Press, 2011), hlm. 92.
5. Beard, Mary, _SPQR: A History of Ancient Rome_ (London: Profile Books, 2015), hlm. 312-330, tentang pembusukan moral kekaisaran akibat absolutisme.
6. Holland, Tom, _Dynasty: The Rise and Fall of the House of Caesar_ (London: Little, Brown, 2015), bab tentang Domitianus dan gelar Dominus et Deus.
7. Morgan, Gwyn, _69 AD: The Year of Four Emperors_ (Oxford: Oxford University Press, 2005), untuk konteks ketidakstabilan akibat perebutan kekuasaan.
8. Strauss, Barry, _Ten Caesars: Roman Emperors from Augustus to Constantine_ (New York: Simon & Schuster, 2019), hlm. 201-220, tentang Commodus dan teater gladiator.
9. Prapanca, Mpu, _Kakawin Nagarakretagama_, Pupuh 8-15, edisi terjemahan Slamet Muljana (Jakarta: Bhatara, 1979), menggambarkan kejayaan dan beban upeti Majapahit.
10. _Sejarah Melayu (Sulalatus Salatin)_, edisi A. Samad Ahmad (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1979), hlm. 145, tentang korupsi syahbandar.
11. Ras, J.J., _Hikayat Banjar_ (The Hague: Martinus Nijhoff, 1968), tentang eksploitasi lada dan kerusakan lingkungan di Kalimantan Selatan.
12. Pakubuwono IV, _Serat Wulangreh_, Pupuh I, Dhandhanggula, bait 2: _aja seneng dipuji_.
13. Dewantara, Ki Hajar, _Kebudayaan_, dalam _Karya Ki Hajar Dewantara Bagian I: Pendidikan_ (Yogyakarta: MLPTS, 1962), hlm. 38.
14. Farid, Hilmar, pidato dalam _Kongres Kebudayaan Indonesia 2018_, dalam buku _Memajukan Kebudayaan_ (Jakarta: Kemendikbud, 2020), hlm. 15.
15. Coedes, George, _The Indianized States of Southeast Asia_ (Honolulu: University of Hawaii Press, 1968), hlm. 142-150, tentang kekayaan Sriwijaya dan Majapahit.
16. Anderson, Benedict, _Language and Power: Exploring Political Cultures in Indonesia_ (Ithaca: Cornell University Press, 1990), bab tentang konsep kuasa Jawa dan pentingnya kritik.

*DAFTAR PUSTAKA*

Anderson, Benedict. _Language and Power: Exploring Political Cultures in Indonesia_. Ithaca: Cornell University Press, 1990.

Beard, Mary. _SPQR: A History of Ancient Rome_. London: Profile Books, 2015.

Cassius Dio. _Roman History_. Translated by Earnest Cary. Cambridge, MA: Harvard University Press, 1927.

Coedes, George. _The Indianized States of Southeast Asia_. Honolulu: University of Hawaii Press, 1968.

Dewantara, Ki Hajar. _Karya Ki Hajar Dewantara Bagian I: Pendidikan_. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, 1962.

Farid, Hilmar. "Kebudayaan dan Pengetahuan Lokal". Dalam _Memajukan Kebudayaan_. Jakarta: Kemendikbud, 2020.

Holland, Tom. _Dynasty: The Rise and Fall of the House of Caesar_. London: Little, Brown, 2015.

Morgan, Gwyn. _69 AD: The Year of Four Emperors_. Oxford: Oxford University Press, 2005.

Pakubuwono IV. _Serat Wulangreh_. Surakarta: Keraton Surakarta, 1805.

Prapanca, Mpu. _Kakawin Nagarakretagama_. Terjemahan Slamet Muljana. Jakarta: Bhatara, 1979.

Ras, J.J. _Hikayat Banjar_. The Hague: Martinus Nijhoff, 1968.

_Sejarah Melayu (Sulalatus Salatin)_. Edisi A. Samad Ahmad. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1979.

Strauss, Barry. _Ten Caesars: Roman Emperors from Augustus to Constantine_. New York: Simon & Schuster, 2019.

Suetonius. _The Twelve Caesars_. Translated by Robert Graves. London: Penguin Books, 2007.

Tacitus. _The Annals of Imperial Rome_. Translated by Michael Grant. London: Penguin Books, 1996.

Winterling, Aloys. _Caligula: A Biography_. Translated by Deborah Schneider. Berkeley: University of California Press, 2011.