Home agama Warok Ponorogo Tidak Pernah Mati : Dari Betoro Katong, Tegalsari, Hingga Mimbar Satu Abad Gontor

Warok Ponorogo Tidak Pernah Mati : Dari Betoro Katong, Tegalsari, Hingga Mimbar Satu Abad Gontor

116
0
SHARE
Warok Ponorogo Tidak Pernah Mati : Dari Betoro Katong, Tegalsari, Hingga Mimbar Satu Abad Gontor

Oleh : H.Yahya Aziz, Alumni PMDG 1992, Penulis Buku Haji Bahagia-Haji Taubat.

Ponorogo itu tidak pernah berdiri di atas satu orang. Ponorogo berdiri di atas rantai doa yang sambung-menyambung.

Jika kau tanya siapa Warok Ponorogo, jawabnya: Warok adalah gelar laku, bukan nama. Akarnya dari "WEWARAH" dan dari Arab ("WARA')"- orang yang menahan diri dari yang haram. Karena itu Warok digambarkan jujur, berani, lugu, apa adanya. Guru yang menjaga.

Warok pertama adalah "Ki Ageng Kutu Suryongalam". Dari padepokan Surukubeng itulah ia mendidik para Warok, dan dari kekecewaannya pada Majapahit akhir lahirlah Reog sebagai sindiran kekuasaan.
Ya, "REOG" menurut pendapat beberapa masyayih kyai sepuh Jawa Timur, itu berasal dari bahasa Arab yang berarti "Ro'yul Haq" atau "Roaa Alhaq", ide kebenaran atau melihat kebenaran.
Bila melihat penyimpangan seorang penguasa, maka ide kebenaran atau melihat kebenaran harus disampaikan kepada penguasa yang lalai.
WaAllahu 'lam.

Lalu siapa penyebar Islam pertama di Ponorogo? Bukan Warok. Sejarah harus diluruskan.

"Islam masuk ke Ponorogo dibawa oleh seorang tokoh berdarah Majapahit bernama Bathara Katong". Nama aslinya "LEMBU KANIGORO", nama kecilnya Raden Joko Piturun. Ia putra Prabu Brawijaya V dari Putri Campa yang muslimah, adik dari Raden Patah Demak.

Tahun 1486, ia membabat hutan Wengker. Babad mencatat pekerjaan itu tidak mudah, banyak gangguan dari berbagai pihak... Namun karena bantuan Warok dan para prajurit Wengker, akhirnya pekerjaan membabat hutan itu lancar. Di Dukuh Plampitan, Jenangan, ia mendirikan pusat baru, mengganti nama Wengker menjadi Ponorogo, mendirikan masjid, dan mengislamkan dengan cara Ponorogo: "lewat budaya, pernikahan, dan pendidikan, dibantu Patih Selo Aji".

Itu adalah pondasi pertama: "Bathoro Katong sebagai Adipati dan Dai, Warok sebagai penjaga panjinya".

Pondasi itu tidak putus. 250 tahun kemudian, Allah tumbuhkan pondasi kedua, yang menjadi jantung Islam di Ponorogo.

PONDOK TEGALSARI

Pada tahun 1742, di Desa Jetis, 10 km selatan kota Ponorogo, Kyai Ageng Muhammad Hasan Besari,  mendirikan Pesantren Tegalsari. Pesantren Gebang Tinatar. Pesantren ini begitu masyhur, santrinya ribuan, bahkan disebut tidak ada bukti pesantren yang lebih terorganisir sebelum Tegalsari di tanah Jawa.

Dari Tegalsari inilah Ponorogo menjadi mercusuar.

Kenapa Tegalsari begitu penting? Karena ia adalah jembatan. Jika Bathoro Katong adalah yang mengislamkan bumi secara politik, maka Tegalsari adalah yang mengislamkan jiwa secara ilmu. Dan Tegalsari adalah cikal bakal Pondok-pondok besar di Jawa : Gontor, Tebu Ireng, Lirboyo & Ploso.

"Cikal bakal Gontor berakar dari Pondok Tegalsari Ponorogo yang didirikan oleh Kyai Ageng Hasan Besari pada abad ke-18".

Sejarahnya mengalir begini:

Tegalsari dipimpin 6 generasi. Pada masa pemimpin ke-6, Kyai Hasan Khalifah, ada seorang santri kesayangan yang sangat cerdas, namanya "R.M. Sulaiman Djamaluddin", keturunan Keraton Kasepuhan Cirebon, cucu Sultan. Karena kesayangannya, Kyai Khalifah menikahkan putri bungsunya, Oemijatin, dengan Sulaiman. Lalu ia diberi amanah: "Dirikan pesantren baru untuk meneruskan Tegalsari."

Maka Sulaiman pergi 3 km ke timur Tegalsari, ke sebuah hutan yang saat itu dikenal sebagai "ENGGON KOTOR",  tempatnya perampok, penjahat, pemabuk. Hutan itu bernama Gontor. Dengan bekal 40 santri, ia dirikan Gontor Lama.

Hutan kotor yang dibabat Bathoro Katong tahun 1486, hutan kotor yang dibabat Sulaiman tahun 1800-an. Polanya sama. Itulah cara Ponorogo didirikan: dari hutan angker menjadi taman ilmu.

Gontor Lama kemudian mengalami pasang surut, sampai akhirnya pada 20 September 1926, tiga putra Kyai Santoso Anom Besari - yang dikenal sebagai *Trimurti: KH. Ahmad Sahal, KH. Zainuddin Fananie, dan KH. Imam Zarkasyi* - membangkitkannya kembali menjadi Pondok Modern Darussalam Gontor.

Dan dari Tegalsari juga lahir gen-gen pemimpin bangsa: Pujangga R. Ng. Ronggowarsito mondok di sana umur 12 tahun, HOS Cokroaminoto adalah keturunannya, KH. Hasyim Asy'ari masih satu trah, bahkan kata Gus Dur, hampir semua pemimpin nasionalis dan Islam Indonesia, kalau tidak dari raja Jawa, ya dari Kyai Ageng Muhammad Besari Tegalsari.

Jadi lihatlah rantainya: Bathoro Katong membuka tanahnya. Tegalsari membuka jiwanya. Gontor membuka matanya untuk dunia.

Dan rantai itu tidak putus pada Sabtu, 19 September 2026 kemarin.

Di Balai Pertemuan Pondok Modern Gontor, di Resepsi Syukuran 1 Abad Gontor, di hadapan Presiden Prabowo Subianto, naiklah dzurriyah dari rantai itu: *KH. Hasan Abdullah Sahal*.

Orang mengira ia akan cari muka. Justru ia menampar budaya cari muka.

"Andai kata Pak Prabowo hari ini enggak datang, muka saya taruh di mana? Akhirnya saya harus cari muka. Sekarang banyak orang yang cari muka, betul? Orang ndak punya ijazah, cari ijazah. Orang ndak punya nama, cari nama..."

Tawa pecah, lalu semua terdiam. Karena yang bicara bukan politisi. Yang bicara adalah Warok.

Warok yang sama yang dulu membantu Bathoro Katong membabat hutan Wengker. Warok yang sama yang menjaga Tegalsari agar tetap menjadi desa perdikan yang bebas pajak karena jasanya menolong Pakubuwono II kembali ke tahta. Warok yang sama yang hari ini berkata: "Kalau apa yang saya makan, apa yang saya pakai, apa yang saya tempati lebih daripada santri, boleh diprotes, boleh didemo."

Itulah kenapa orang Ponorogo berbisik, "Warok Ponorogo zaman sekarang ya Pak Kyai Hasan Abdullah Sahal  Gontor."

Karena tegas. Karena tegak. Karena di depan Presiden pun ia tidak menunduk, ia malah memberi nasehat.

Dulu Bathoro Katong mengislamkan Ponorogo dengan Reog. Kyai Ageng Besari mengislamkan dengan kitab kuning di Tegalsari. Kini Kiai Hasan menjaga keduanya dengan Panca Jiwa Gontor.

Bathoro Katong, Tegalsari, Gontor. Itu bukan tiga sejarah yang berbeda. Itu satu tarikan napas yang sama.

Dan selama napas itu masih ada, Ponorogo tidak akan pernah kehilangan Warok-nya.
Oh Gontor....dulu "Enggon Kotor....sekarang jadi...Enggon Inspirator".

Barakallah....!
Semoga bermanfaat..!